Selasa, 03 Maret 2015

Syair dari persia

CINTA DALAM KETIADAAN
Betapa tak ’kan sedih aku, bagai malam,
tanpa hari-Nya serta keindahan wajah hari
terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku:
semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih
yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta demi
kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.
Titik air mata demi Dia adalah mutiara, meski
orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun
sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma
berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, dan
kutertawakan seluruh dalihnya.
Perlakukanlah aku dengan benar, O Yang
Maha Benar, O Engkaulah Mimbar Agung, dan
akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan
mimbar itu? Di manakah sang Kekasih, di
manakah “kita” dan “aku”?
O Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan
“aku”, O Engkaulah hakekat ruh lelaki dan
wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu,
Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-
bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya
memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat
menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam
sang Kekasih.
NYANYIAN SERULING BAMBU
Dengarkan nyanyi sangsai Seruling Bambu
Mendesah selalu, sejak direnggut
Dari rumpun rimbunnya dulu, alunan
Lagu pedih dan cinta membara.
“Rahasia nyanyianku, meski dekat,
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman tahu isyarat
Mendekap segenap jiwanya dengan jiwaku!
Ini nyala Cinta yang membakarku,
Ini anggur Cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pencinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!”
DUKACITA KEMATIAN
Pangeran umat manusia (Muhammad) sungguh
mengatakan bahwa tak seorang pun yang
meninggalkan dunia ini
Merasa sedih dan menyesal karena telah mati;
sebaliknya, dia bahkan sangat menyesal
karena telah kehilangan kesempatan,
Seraya berkata pada dirinya, ”Mengapa tak
kujadikan kematian sebagai tujuanku –
kematian sebagai gudang menyimpan segala
keberuntungan dan kekayaan,
Dan mengapa, karena tampak ganda, aku
tambatkan hidupku pada bayang-bayang yang
mudah lenyap dalam sekejap?”
Dukacita kematian tiada hubungannya dengan
ajal, karena mereka asyik dengan wujud
keberadaan yang menggejala
Dan tak pernah memandang seluruh buih ini
bergerak dan hidup karena Sang Lautan.
Bila Sang Lautan telah menepiskan buih ke
pantai, pergilah ke kuburan dan lihatlah
mereka!
Tanyakan kepada mereka, ”Di manakah arus
gelombangmu kini?” dan dengarlah jawaban
bisu mereka, ”Tanyakan kepada Sang Lautan,
bukan kepada kami”.
Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak?
Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa
angin?
Bila kaulihat debu, lihatlah pula Sang Angin;
bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra
Tenaga Penciptan.
Mari, perhatikanlah, karena pernglihatan
batinlah satu-satunya yang paling berguna
dalam dirimu: selebihnya adalah keping-
keping lemak dan daging, pakaian dan
pembungkus (tulang dan nadi).
Leburkanlah seluruh tubuhmu ke dalam
Penglihatan Batin: lihat, lihat, lihatlah!
Sekilas hanya sampai pada satu dua depa
jalan; pandangan cermat akan alam duniawi
dan spiritual menyampaikan kita pada Wajah
Sang Raja.
”PERKAWINAN”
Betapa bahagia saat kita duduk di istana, kau
dan aku,
Dua sosok dan dua tubuh namun hanya satu
jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan senandung burung ’kan
menebarkan pesona
Pada saat kita memasuki taman, kau dan
aku.
Bintang-bintang nan beredar sengaja
menatap kita lama-lama:
Bagi mereka kita ’kan jadi bulan, kau dan
aku.
Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, ’kan
menyatu dalam kenikmatan puncak,
Bercanda ria serta bebas dari percakapan
dungu, kau dan aku.
Burung-burung yang terbang di langit ’kan
menatap iri
Karena kita tertawa riang gembira, kau dan
aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku, duduk di sudut
yang sama di sini,
Pada saat yang sama berada di Irak da
khurasan, kau dan aku.
TETAP INGKAR
Apabila ada yang mengatakan kepada janin
di rahim, ”Di luar sana ada sebuah dunia yang
teratur,
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh
kesenagan dan makanan, luas dan lebar;
Gunung, lautan, dan daratan, kebun buah-
buahan mewangi, sawah dan ladang terbetang,
Langitanya sangat tinggi dan berbinar, sinar
mentari dan cahaya bulan serta tak terkira
banyaknya bintang;
Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau
tetap tinggal, mereguk darah, di dalam
penjara yang kotor lagi penuh penderitaan
ini?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentua akan
berpaling tak percaya sama sekali; karena
yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci
menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau
dan warna,
Tak seorang pun di antara orang-orang kasar
yang mau mendengarkannya: hawa nafsu
adalah sebuah rintangan yang kuat dan
perkasa
Begitupun dengan hasrat janin akan darah
yang memberinya makanan di tempat yang
hina
Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama
ia tak mengetahui makanan selain darah
semata.
KERANA CINTA
Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota
penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma
keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan
kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti
taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi
bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti
tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan
KEARIFAN CINTA
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih
sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
CINTA
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai
ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya,
Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan
muka ke jalannya.
Setiap orang mempunyai kekasih, dialah
kekasih saya,
Kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang
Saya cintai,
Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling
sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para
pecinta
yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia
dan
dia dan mereka adalah dia.Ini adalah sebuah
rahasia
Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan
memahaminya.
CINTA : LAUTAN TAK BERTEPI
Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang
Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta,
Bagaimana sesuatu yang organik berubah
menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri
demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan
diri demi nafas (Ruh) yang menghamili
Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai
salju
Tidak dapat terbang serta mencari padang
ilalang bagai belalang.
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha
Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas.
Cita-cita mereka yang tak terdengar,
sesungguhnya, adalah
lagu pujian Keagungan pada Tuhan.
PERIH CINTA
Perih Cinta inilah yang membuka tabir hasrat
pencinta:
Tiada penyakit yang dapat menyamai dukacita
hati ini.
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah,
isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.
Apakah dari jamur langit ataupun jamur
bumi,
Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada
akhirnya.
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk
menerangkan Cinta,
Bagai keledai dalam lumpur: Cinta adalah
sang penerang Cinta itu sendiri.
Bukankah matahari yang menyatakan dirinya
matahari?
Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari
ada di sana.
PERNYATAAN CINTA
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam
kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam
lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan
ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan
mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak
bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat
bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat
membelai kepala lagi.
TANPA CINTA, SEGALANYA TAK BERNILAI
Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak
akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti
Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang
memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari
langit
dan terikat pada bumi sepanjang dua atau
tiga hari
Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi
Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah
dan betapa menderitanya Keterpisahan
denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
dalam zikir hari yang kau gerakkan dari
Persatuan
Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan
Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau
larut dalam kepedihan ?
Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang
menguncup akan segera mekar. Sebab engkau
telah merasakan bagaimana Nikmatnya
Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian
Hati
adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA”
dalam pertanyaan :
“Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
PUASA MEMBAKAR HIJAB
Rasa manis yang tersembunyi,
Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi,
ia tidak dapat berdendang,
Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena
puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan
dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan
membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas
jalan serta dalam hasratmu.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung,
sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang
menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu
Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
DISEBABKAN RIDHO-NYA
Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,
Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang
seperti debu ini
dengan Cinta-Mu?
LETAK KEBENARAN
Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam
hakekat,
Tapi orang dungu mencarinya di dalam
kenampakan.
KAU DAN AKU
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung,
Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan
satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung
memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan,
Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita

Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka,
Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan
Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri
pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa;
Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di
Khurasan –
Kau dan Aku.
RAHASIA YANG TAK TERUNGKAP
Apapun yang kau dengar dan katakan
(tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah
rahasia yang tak terungkapkan.
PERNYATAAN CINTA
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam
kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam
lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan
ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan
mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak
bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat
bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat
membelai kepala lagi.
HATI BERSIH MELIHAT TUHAN
Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat
dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada
seberapakah
ia menggosok hati tersebut.
Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat
semakin nyata baginya.
KEMBALI PADA TUHAN
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah
prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang
Tuhan.Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau
belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!Jika
engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh
sembilan saja.Begitulah caranya!Wahai
pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar
janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana
Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”
KESUCIAN HATI
Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian
hati
ialah melalui kerendahan hati.
Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya”
dalam pertanyaan
Bukankah Aku Tuhanmu?
MENYATU DALAM CINTA
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit.
Badan semakin lemah, sementara suhu badan
semakin tinggi.Para tabib menyarankan bedah,
“Sebagian darah dia harus dikeluarkan,
sehinggu suhu badan menurun.”Majnun
menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah
terhadap saya.”Para tabib pun bingung, “Kamu
takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar
hutan seorang diri. Tidak takut menjadi
mangsa macan, tuyul atau binatang buas
lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau
bedah?”“Tidak, bukan pisau bedah itu yang
kutakuti,” jawab Majnun.“Lalu, apa yang kau
takuti?”“Jangan-jangan pisau bedah itu
menyakiti Layla.”“Menyakiti Layla? Mana
bisa? Yang dibedah badanmu.”“Justru itu.
Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku.
Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat
perbedaan antara aku dan Layla.”
MEMAHAMI MAKNA
Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti
Wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan
sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.
Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah
aku.
Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-
mutiara
makna yang telah aku rentangkan di atas
kalung pembicaraan
berasal dari Lautan-Mu.
TUHAN HADIR DALAM TIAP GERAK
Tuhan berada dimana-mana.
Ia juga hadir dalam tiap gerak.
Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini
dan itu.
Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan
ruang.
Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi
ruang.
AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU
Apa yang dapat aku lakukan, wahai umat
Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
Bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi,
maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
LIHATLAH YANG TERDALAM
Jangan kau seperti iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika
memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!
KETERASINGAN DI DUNIA
Mengapa hati begitu terasing dalam dua
dunia?
Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,
Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang.
RUMAH
Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah
rumah,
dan hanya sembilan yang menemukan jalan
masuk,
yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan,
“Ini sudah takdir Tuhan.”
Ia seharusnya mencari tahu apa
kekurangannya.
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh
adalah debu di atasnya.
Kecantikan kita tidak terasa, karena kita
berada di bawah debu.
UPAYA
Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
BURUNG HANTU
Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu
dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
BURUNG HANTU dan ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding
reruntuhan yang dihuni burung hantu.
Burung-burung hantu menakutkannya, si
elang berkata, “Bagi kalian tempat ini
mungkin tampak makmur, tetapi tempatku
ada di pergelangan tangan raja.”
Beberapa burung hantu berteriak kepada
temannya, “Jangan percaya kepadanya!
Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri
rumah kita.”
By : Jalaluddin Rumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar