Selasa, 31 Maret 2015

Martabat tujuh


MARTABAT TUJUH
1. Merupakan hakekat Dzat mutlak yang
kadim. Artinya; hakekat Dzat yang lebih
dulu, yaitu Dzatullah, yang menjadi wahana
alam Ahadiyat yang ada adalah pohon
kehidupan yang berada dalam jagad yang
sunyi senyap segalanya, dan belum ada
sesuatu apapun
2. Hakekatnya cahaya, yang diakui sebagai
tajalinya Dzat di dalam nukat gaib, sebagai
sifatnya Atma, menyebabkan adanya alam
Wahdat
3. Diakui sebagai rahsa Dzat , sebagai
namaNya, menyebabkan adanya alam
Wahadiyat
4. Berasal dari nur muhammad, itulah
hakekat Sukma yang diakui sebagai
keadaan Dzat sebagai tabirnya Atma,
menyebabkan adanya alam Arwah
5. Keadaan nur muhammad dan tempat
berkumpulnya darah seluruhnya adalah
hakekat angan-angan yang diakui sebagai
bayangan Dzat , sebagai ikatannyaNya,
menyebabkan adanya alam Mitsal
6. Hakekat Budi , diakui sebagai hiasannya
Dzat, sebagai pintunya Atma, menyebabkan
adanya alam Ajsam
7. Hakekat Jasad yang meliputi 5 warna
yang bergerak , yang diakui sebagai
Wahana Dzat, sebagai tempat Atma,
menyebabkan adanya alam Insan Kamil
Selanjutnya tentang Kenyataan dalam alam
Hukmi ;
1. Alam Ruhiyah – alam nyawa
2. Alam Sirriyah – alam perwujudan budi
( jasad) dan disinilah adanya 4 nafsu inti ;
– Lawwammah cahayanya hitam disebut
alam Nasut
- Amarah cahayanya merah disebut alam
Jabarut ( antara lain khodam ada disini )
- Sufiah cahayanya kuning disebut alam
Latut
- Muthmainah cahayanya putih disebut alam
Malakut
3. Alam Nurriyah-alam cahaya
4. Alam Uluhiyah-alam Ke-Tuhanan
Dalam proses perjalanannya adalah dengan
2 cara yaitu ;
Taraqih ( Mendaki ) :
1 Semua orang mengandalkan
kemampuannya sendiri2 baik mulai dari
mengandalkan muka, suara, ilmu
pengetahuan atau fisiknya untuk
mendapatkan uang atau materi, jelas sudah
bahwa kita selama ini disibukkan dengan
urusan2 fisik sehingga makin tebal saja
untuk dapat melihat Tuhan, maka dapat
dikatakan kebanyakan manusia terhijab
pandangannya untuk melihat Tuhan oleh
dinding yang paling Luar atau alam Ajsam
ini
2. Manusia adalah makhluk yg berjiwa dan
diberikan akal dan hatinya sehingga lebih
maju daripada manusia yang sekedar
mengandalkan fisik saja, namun Tuhan
memberikan akal dan hati inipun rupanya
bertingkat2. Kerja akal yang paling bawah
adalah ‘aql atau akal dalam al qur’an afalaa
ta’qiluun. Kerja akal adalah memikirkan
sesuatu yang bersifat kealaman, dan dgn
akal ini akan ditemukan kebenaran dan
kesalahan serta kebaikan dan keburukan
dalam perspektif duniawi. Demikan juga
kerja hati, ia memiliki beberapa tingkatan ,
yg terendah adalah qalb atau hati yang
selalu berbolak-balik, kadang baik kadang
buruk…dan orang yang biasa menggunakan
‘aql dan qalb ini cenderung akan serakah
pada dunia. Inilah hijab yang lebih tipis
dibanding dengan fisik. Lebih tinggi lagi bila
manusia bisa mengaktifkan akal kedua yaitu
fikr ( Ta’ala afalaa tatafakkaruun )yang
akhirnya dapat menjangkau hal2 yang tak
tampak di dunia ini. Islam diturunkan
dengan membawa kabar gembira juga
membawa peringatan kepada manusia
tentang adanya siksa yang pedih di akhirat
kelak. Kebanyakan manusia sulit untuk
dapat mengenalTuhan secara sempurna,
maka Rasulullaah Muhammad SAW al
mustafa diutus memberikan jalan tengah
agar mereka menyembah Tuhan sesuai
kemampuannya, adanya sorga neraka
adalah merupakan motivasi agar mereka
menyembah Tuhan. Sayyidina Ali menyebut
manusia seperti itu sebagai pedagang yaitu
hanya menyembah Tuhan jika diancam dgn
neraka dan dijanjikan sorga sebagai
hadiah, dan dgn fikr-nya yg sudah terbuka
lebih baik dari pada mereka yang masih
terkungkung nafsu dan sudah memasuki
pengenalan alam Mitsal
3. Selanjutnya manusia diharapkan mengenal
rohnya (nyawa), inilah nyawa yg membuat
jasmani dan jiwa menjadi hidup, jasmani
tidak akan dapat bergerak bila tida dapat
perintah dari jiwa, dan jiwa tdk dpt
memberi perintah pada gerakan jasmani jika
tidak terdapat roh di dalamnya. Ketika sdg
tidur, manusia tidak bergerak dan tidak
merasakan sesuatu karena jiwanya keluar
dari jasad, namun ia tetap dikatakan hidup
karena rohnya masih ada dalam jasad.
Dalam al qur’an, Tuhan meniupkan roh
manusia ini yang berasal dari roh-Nya. Roh
berasal dari Tuhan secara langsung adapun
jasmani hanyalah gambaran maya saja dan
bisa enjadi penghalang bagi manusia yang
tidak mampu menangkap rahasia
diciptakannya jasmani tersebut. Mengenal
Tuhanpun dapat dilakukan melalui jasmani
dengan menganggapnya sebagai gambaran
dari Wajah Tuhan, adapun Dzat
sesungguhnya adalah dalam Rahsa,
sedangkan jiwa adalah gambaran dari
perbuatan, nama dan sifat Tuhan, sama
seperti alam semesta ini juga sebagai
tajaliNya
4. Roh manusia satu dan roh manusia
lainnya juga satu, karena dari sumber yang
satu yang bersumber dari Nur Muhammad
dalam alam Wahidiyat dan roh manusia ini
hanyalah titipan kecil dari Roh Agung
kepada roh kecil di dunia
5. Roh Agung pada Martabat Wahdah ini
bukan lagi sebagai makhluk, namun lebh
dekat dengan sifat keTuhanan, Dia adalah
satu namun bukan Tuhan namun bukan lagi
makhluk dan tidak berkaitan dengan
mahkluk
6. Bila kita dapat menggulung semuanya
menjadi satu termasuk sifat Hayyun atau
Maha hidup dalam Martabat Wahdah maka
akan timbul Dzatullah
7. Tiada bernama, berawal-berakhir, tiada
bertepi dan keberadaanNya tak dapat
dijangkau dengan nama
Tanazul ( Menurun ) :
1. Dzat Tuhan yang tidak bernama, karena
tidak satupun yang mampu mewakili
KeberadaanNya, tiada berawal dan berakhir
serta Maha Esa, tidak ada yang dapat
mengenalNya karena tidak ada yang lain
selain diriNya, Dia berkeinginan menciptakan
makhluk agar makhluk itu mengenalNya…
Penampakan Tuhan ini berjalan menurun,
dan penurunan petama yang Dia lakukan
adalah sebagai Nur Muhammad atau sering
disebut Allah dan ini hanya sebuah nama
untuk menyebut diri Tuhan, padahal
sejatinya Dia tak dapat dijangkau dengan
nama
2. Penurunan ini bukan berarti bahwa Tuhan
ada 2, Dia hanya menampakkan Diri dalam
kualitas menurun agar lebih mudah di kenal
karena Dzat Tuhan terlalu suci untuk
dikenal, jadi nama adalah jembatan agar Dia
mudah untuk dikenal inilah Martabat
Wahdah
3. Tetap dengan penurunan Diri dengan
nama Allah ini pun masih sulit dikenal
secara mudah, maka Tuhan menurunkan Diri
lagi menjadi bersifat kemakhlukan, yakni
Nur Muhammad yang tidak lagi bernama
Allah dan dalam tahap ini bersifat mendua
atau berpasang-pasangan sebagai cikal
bakal penciptaan alam semesta dan
tahapan ini biasa disebut dengan Martabat
Wahidiyat
4. Dari Nur Muhammad yang bersifat
kemakhlukan ini terurai menjadi bagian2
halus yang belum tampak. Itulah roh2 atau
alam arwah, roh merupakan sumber
kehidupan bagi tiap2 benda. Kehidupan
merupakan syarat mutlak bagi makhluk
untuk dapat mengenal Tuhan
5. Sumber kehidupan berupa roh tersebut
tidak akan mampu mewakili keinginan Tuhan
jika tidak disertai sarana atau wadah.
Dalam alam Mitsal ini manusia sudah ada
namun masih berbentuk jiwa. Ia belum
memiliki raga, selanjutnya Tuhan
menampakkan DzatNya sebagai wadah
perbuatan, nama dan sifatNya, sehingga
muncullah alam Ajsam
6. Tuhan menampakkan diri secara
menyeluruh, Raga adalah perwujudan Rupa
DiriNya, perbuatan nama dan sifat alam
semesta adalah WajahNya, semuanya
terbungkus sifat kemakhlukan yang serba
mendua
7. Setelah mengetahui hakikat diri secara
menurun, maka tahulah bahwa alam semesta
hakikatNya adalah gambaran Rupa Tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar