dalane kasangsaran uga ana
patang prakara:
1. Rusaking ati, manusa iku yen pikire
rusak, ragane mêsthi iya melu rusak.
2. Rusaking raga, iya iku wong lara.
3. Rusaking jênêng, iya iku wong mlarat.
4. Rusaking budi, iya iku wong bodho,
cupêt budine, wong bodho lumrahe
gampang nêpsune.
Selasa, 31 Maret 2015
Dalane sengsoro
Martabat tujuh
MARTABAT TUJUH
1. Merupakan hakekat Dzat mutlak yang
kadim. Artinya; hakekat Dzat yang lebih
dulu, yaitu Dzatullah, yang menjadi wahana
alam Ahadiyat yang ada adalah pohon
kehidupan yang berada dalam jagad yang
sunyi senyap segalanya, dan belum ada
sesuatu apapun
2. Hakekatnya cahaya, yang diakui sebagai
tajalinya Dzat di dalam nukat gaib, sebagai
sifatnya Atma, menyebabkan adanya alam
Wahdat
3. Diakui sebagai rahsa Dzat , sebagai
namaNya, menyebabkan adanya alam
Wahadiyat
4. Berasal dari nur muhammad, itulah
hakekat Sukma yang diakui sebagai
keadaan Dzat sebagai tabirnya Atma,
menyebabkan adanya alam Arwah
5. Keadaan nur muhammad dan tempat
berkumpulnya darah seluruhnya adalah
hakekat angan-angan yang diakui sebagai
bayangan Dzat , sebagai ikatannyaNya,
menyebabkan adanya alam Mitsal
6. Hakekat Budi , diakui sebagai hiasannya
Dzat, sebagai pintunya Atma, menyebabkan
adanya alam Ajsam
7. Hakekat Jasad yang meliputi 5 warna
yang bergerak , yang diakui sebagai
Wahana Dzat, sebagai tempat Atma,
menyebabkan adanya alam Insan Kamil
Selanjutnya tentang Kenyataan dalam alam
Hukmi ;
1. Alam Ruhiyah – alam nyawa
2. Alam Sirriyah – alam perwujudan budi
( jasad) dan disinilah adanya 4 nafsu inti ;
– Lawwammah cahayanya hitam disebut
alam Nasut
- Amarah cahayanya merah disebut alam
Jabarut ( antara lain khodam ada disini )
- Sufiah cahayanya kuning disebut alam
Latut
- Muthmainah cahayanya putih disebut alam
Malakut
3. Alam Nurriyah-alam cahaya
4. Alam Uluhiyah-alam Ke-Tuhanan
Dalam proses perjalanannya adalah dengan
2 cara yaitu ;
Taraqih ( Mendaki ) :
1 Semua orang mengandalkan
kemampuannya sendiri2 baik mulai dari
mengandalkan muka, suara, ilmu
pengetahuan atau fisiknya untuk
mendapatkan uang atau materi, jelas sudah
bahwa kita selama ini disibukkan dengan
urusan2 fisik sehingga makin tebal saja
untuk dapat melihat Tuhan, maka dapat
dikatakan kebanyakan manusia terhijab
pandangannya untuk melihat Tuhan oleh
dinding yang paling Luar atau alam Ajsam
ini
2. Manusia adalah makhluk yg berjiwa dan
diberikan akal dan hatinya sehingga lebih
maju daripada manusia yang sekedar
mengandalkan fisik saja, namun Tuhan
memberikan akal dan hati inipun rupanya
bertingkat2. Kerja akal yang paling bawah
adalah ‘aql atau akal dalam al qur’an afalaa
ta’qiluun. Kerja akal adalah memikirkan
sesuatu yang bersifat kealaman, dan dgn
akal ini akan ditemukan kebenaran dan
kesalahan serta kebaikan dan keburukan
dalam perspektif duniawi. Demikan juga
kerja hati, ia memiliki beberapa tingkatan ,
yg terendah adalah qalb atau hati yang
selalu berbolak-balik, kadang baik kadang
buruk…dan orang yang biasa menggunakan
‘aql dan qalb ini cenderung akan serakah
pada dunia. Inilah hijab yang lebih tipis
dibanding dengan fisik. Lebih tinggi lagi bila
manusia bisa mengaktifkan akal kedua yaitu
fikr ( Ta’ala afalaa tatafakkaruun )yang
akhirnya dapat menjangkau hal2 yang tak
tampak di dunia ini. Islam diturunkan
dengan membawa kabar gembira juga
membawa peringatan kepada manusia
tentang adanya siksa yang pedih di akhirat
kelak. Kebanyakan manusia sulit untuk
dapat mengenalTuhan secara sempurna,
maka Rasulullaah Muhammad SAW al
mustafa diutus memberikan jalan tengah
agar mereka menyembah Tuhan sesuai
kemampuannya, adanya sorga neraka
adalah merupakan motivasi agar mereka
menyembah Tuhan. Sayyidina Ali menyebut
manusia seperti itu sebagai pedagang yaitu
hanya menyembah Tuhan jika diancam dgn
neraka dan dijanjikan sorga sebagai
hadiah, dan dgn fikr-nya yg sudah terbuka
lebih baik dari pada mereka yang masih
terkungkung nafsu dan sudah memasuki
pengenalan alam Mitsal
3. Selanjutnya manusia diharapkan mengenal
rohnya (nyawa), inilah nyawa yg membuat
jasmani dan jiwa menjadi hidup, jasmani
tidak akan dapat bergerak bila tida dapat
perintah dari jiwa, dan jiwa tdk dpt
memberi perintah pada gerakan jasmani jika
tidak terdapat roh di dalamnya. Ketika sdg
tidur, manusia tidak bergerak dan tidak
merasakan sesuatu karena jiwanya keluar
dari jasad, namun ia tetap dikatakan hidup
karena rohnya masih ada dalam jasad.
Dalam al qur’an, Tuhan meniupkan roh
manusia ini yang berasal dari roh-Nya. Roh
berasal dari Tuhan secara langsung adapun
jasmani hanyalah gambaran maya saja dan
bisa enjadi penghalang bagi manusia yang
tidak mampu menangkap rahasia
diciptakannya jasmani tersebut. Mengenal
Tuhanpun dapat dilakukan melalui jasmani
dengan menganggapnya sebagai gambaran
dari Wajah Tuhan, adapun Dzat
sesungguhnya adalah dalam Rahsa,
sedangkan jiwa adalah gambaran dari
perbuatan, nama dan sifat Tuhan, sama
seperti alam semesta ini juga sebagai
tajaliNya
4. Roh manusia satu dan roh manusia
lainnya juga satu, karena dari sumber yang
satu yang bersumber dari Nur Muhammad
dalam alam Wahidiyat dan roh manusia ini
hanyalah titipan kecil dari Roh Agung
kepada roh kecil di dunia
5. Roh Agung pada Martabat Wahdah ini
bukan lagi sebagai makhluk, namun lebh
dekat dengan sifat keTuhanan, Dia adalah
satu namun bukan Tuhan namun bukan lagi
makhluk dan tidak berkaitan dengan
mahkluk
6. Bila kita dapat menggulung semuanya
menjadi satu termasuk sifat Hayyun atau
Maha hidup dalam Martabat Wahdah maka
akan timbul Dzatullah
7. Tiada bernama, berawal-berakhir, tiada
bertepi dan keberadaanNya tak dapat
dijangkau dengan nama
Tanazul ( Menurun ) :
1. Dzat Tuhan yang tidak bernama, karena
tidak satupun yang mampu mewakili
KeberadaanNya, tiada berawal dan berakhir
serta Maha Esa, tidak ada yang dapat
mengenalNya karena tidak ada yang lain
selain diriNya, Dia berkeinginan menciptakan
makhluk agar makhluk itu mengenalNya…
Penampakan Tuhan ini berjalan menurun,
dan penurunan petama yang Dia lakukan
adalah sebagai Nur Muhammad atau sering
disebut Allah dan ini hanya sebuah nama
untuk menyebut diri Tuhan, padahal
sejatinya Dia tak dapat dijangkau dengan
nama
2. Penurunan ini bukan berarti bahwa Tuhan
ada 2, Dia hanya menampakkan Diri dalam
kualitas menurun agar lebih mudah di kenal
karena Dzat Tuhan terlalu suci untuk
dikenal, jadi nama adalah jembatan agar Dia
mudah untuk dikenal inilah Martabat
Wahdah
3. Tetap dengan penurunan Diri dengan
nama Allah ini pun masih sulit dikenal
secara mudah, maka Tuhan menurunkan Diri
lagi menjadi bersifat kemakhlukan, yakni
Nur Muhammad yang tidak lagi bernama
Allah dan dalam tahap ini bersifat mendua
atau berpasang-pasangan sebagai cikal
bakal penciptaan alam semesta dan
tahapan ini biasa disebut dengan Martabat
Wahidiyat
4. Dari Nur Muhammad yang bersifat
kemakhlukan ini terurai menjadi bagian2
halus yang belum tampak. Itulah roh2 atau
alam arwah, roh merupakan sumber
kehidupan bagi tiap2 benda. Kehidupan
merupakan syarat mutlak bagi makhluk
untuk dapat mengenal Tuhan
5. Sumber kehidupan berupa roh tersebut
tidak akan mampu mewakili keinginan Tuhan
jika tidak disertai sarana atau wadah.
Dalam alam Mitsal ini manusia sudah ada
namun masih berbentuk jiwa. Ia belum
memiliki raga, selanjutnya Tuhan
menampakkan DzatNya sebagai wadah
perbuatan, nama dan sifatNya, sehingga
muncullah alam Ajsam
6. Tuhan menampakkan diri secara
menyeluruh, Raga adalah perwujudan Rupa
DiriNya, perbuatan nama dan sifat alam
semesta adalah WajahNya, semuanya
terbungkus sifat kemakhlukan yang serba
mendua
7. Setelah mengetahui hakikat diri secara
menurun, maka tahulah bahwa alam semesta
hakikatNya adalah gambaran Rupa Tuhan
Puji dino
PUJI DINA
1. Dina Ahad ; ya kayu ya kayumu, nabi
Adam kang ndarbemni, lakunya tidak boleh
nginang sehari semalam, ahad lakune ing
surya, kang rumeksa sadina lawan sawengi,
malekat limang leksa.
kuwasane : lungguhe ing wulu, teguh ora
kena winekang, lan ora katon
2. Dina Senen ; ya rahmanu ya rahima,
nabi’ullah kang ndarbeni, lakune nyegah
iwak sadina sadalu, senen uripe ning wulan
kang rumeksa sadina lawan sawengi,
malekat kawan leksa.
kuwasane : lungguhe ing kulit, teguh kang
kena binenggang
3. Dina Selasa ; ya maliku ya kudusu, nabi
Isa kang ndarbeni, lakune apasa sadina
sadalu selasa uriping lintang kang rumeksa
sadino lawan sawengi, malekat tigang leksa.
kuwasane : lungguhe ing bebayu,
angumpulake cahya kabeh
4. Dina Rebo ; ya kabiru ya muntaha, pepitu
uripipun nabi Ibrahim kang ndarbeni, lakune
nyegah toya sadina sadalu, rebo bumi
uripira kang rumeksa sadina lawan sawengi,
malekat pitung leksa.
kuwasane : lungguhe ing daging, teguh tan
kena winangenan
5. Dina Kemis ; ya ngalim ya ngalimu, wewolu
uripipun, nabi Idris kang ndarbeni, lakune
nyegah uyah sadina sedalu, kemis dahana
uripnya, kang rumeksa sadina lawan
sawengi, malekat wolung leksa.
kuwasane : lungguhe ing otot, teguh sajege
urip
6. Dina Jumungah ; ya kafi ya muqni, ya
enem uripipun, nabi Rasul kang ndarbeni,
lakune nyegah pangan sadina sadalu,
jumungah lakune barat, kang
rumeksa sadina lawan sawengi, malekat
leksa.
kuwasane : lungguhe ing bebalung, sekti
mandraguna
7. Dina Saptu ; ya fatah ya rajah, sesanga
uripipun, nabi Iskhak kang ndarbeni,
lakune datan mendra, sadina sadalu, saptu
uripe ing toya kang rumeksa sadina
lawan sawengi, malekat sangang leksa.
kuwasane : lungguhe ing sumsum,
angumpulaken sakehing rasa kabeh
8. Dina pitu lakon solan salin, mung sadina
sawengi salinnya, pan akatah
supangate, sarta anganggo laku lakunira
solan salin, puji lan nabirira, myang
cecegahipun apa kajate tinekan, lan malati
ora kena den langkahi wayangane kang
maca
Pujine badan
PUJINE BADAN
Pujine Utek : ” Rasulun Rabbil’alamiin “
kuwasane luput tujuh teluh dadi tawar
Pujine Kuping tengen : ” Alliyatan ilahu rabbi
‘umum “
kuwasane ngilangake bilahi kabeh
Pujine Kuping kiwa : ” Samikna wa ‘atakna
guprana karabbasa wa’llekal massiir “
kuwasane ngilangake pakewuh kabeh
Pujine Sirah : ” Padaraktum “
kuwasane nglerebaken kang sarwa galak
kabeh
Pujine netra : ” Kudusun rabbana wa rabbul
malaikatu wa ruh “
kuwasane kinaweden dening wong
lanang wadon
Pujine napas : ” Haplil palubuti ngalla yasin
“
kuwasane kinasihan wong sajagad kabeh
Pujine Gigir : ” Nawaitu minal kibari
pibigalikad hapika karja “
kuwasane teguh timbul
Pujine Otot : ” Parekun parekanun
wa’ljannatun nangimum cipta katon cipta
ora katon “
kuwasane amurba ora katon
Pujine Awak kabeh : ” Inna fatokna
iakafakan mubinin ” lamun arep malebu ing
omah
kuwasane slamet rahayu
Pujine Ati : ” Nasrun minallahi wa patekun
karibun wa kasiril mukminin “
kuwasane awake katon gede
Pujine Amperu : ” Layastakli panahum “
kuwasane kinawedan dening wong tur bagus
rupane kang muji
Pujine Sikil : ” Sari mal maruna “
kuwasane ora katon
Pujine Pepusuh : ” Fasayakfikahumullahu,
wahuwassami’ul ‘aliim “
kuwasane luput senjata tawa
Pujine Dalamake : ” Sangan sangun yuhyi
wayumitu wahuwa allah lakuli sekkin katdir “
kuwasane betah lumaku lan lumayu
Pujine nafas
Puji Nafas Patang Prakara
1. Napas , iku tetalining urip, iya tetalining
ruh, rupane ireng, plawangane Af’alullah,
dununge ing lesan, pujine ; ” Laa ilaha
ilallaah “, iku sampurnaning kulit daging.
2. Tanapas , iku pamiyarsaning ruh, rupane
kuning, plawangane Asma’ullah, dununge ing
kuping, pujine ; ” Allahu… Allahu “ , iku
sampurnaning balung lan otot.
3. Anpas , iku panggonaning ruh, rupane ijo,
plawangane Sifatullah, dununge ing gigir,
pujine ; ” Allah…Allah “ , iya
iku sampurnaning geting lan sumsum.
4. Nupus , iku paningaling ruh, rupane putih,
plawangane Dzatullah, dununge ing netra,
pujine ; ” Ya Hu…Ya Hu “ , iku sampurnaning
pangawasa lan napsu.
Pujineng ati
Pujining ati Patang Prakara
1. Ati Sanubari , iku wisesaning rasa, rupane
ireng, plawangane kaharullah, dununge alam
sulpil, pujine ; ” Allahu…Allahu “, iku
sampurnaning pangucap.
2. Ati Maknawi , iku purbaning rasa, rupane
kuning, plawangane kamahullah, dununge
alam sulbi, pujine ; ” Allah…Allah “ ,
iku sampurnaning pamiyarsa.
3. Ati Siri, iku sampurnaning rasa, rupane
ijo, plawangane jalahullah, dununge alam
topek, pujine ; ” Hu…Hu…Hu “ ,
iku sampurnaning pangambu.
4. Ati Pu-at , iku sirnaning rasa, rupane
putih, plawangane jamalullah, dununge alam
sabit, pujine ; ” Annalkaka … annalkaka “,
iku sampurnaning paningal.
Pujineng nafsu
Pujine Napsu Patang Prakara
1. Lawwammah , iku af’aling urip, rupane
ireng, plawangane cangkem, dununge ing
waduk, pujine ; ” Ya Hu…Ya Hu “ ,
iku sapurnaning cipta lan ripta.
2. Amarah, iku asmaning urip rupane kuning,
plawangane ing kuping, dununge ing
jantung, pujine ; ” Ilah…Ilah “ ,
iku sampurnaning sir lan angen-angen.
3. Supiyah, iku sifating urip rupane ijo,
plawangane ing irung, dununge ing amperu,
pujine ; ” Imanahu …Imanahu “ , iku
sampurnaning osik lan meneng.
4. Muthmainah, iku Dzating urip, rupane
putih, plawangane ing mata, dununge ing
pepusuh, pujine ; ” Hu…Hu…Hu “ ,
iku sampurnaning budi lan rasa.
Pujining manungso
Puji Wijining Manusa
Puji Wijining Manusa
1. Wadi iku rupane abang, kadadiyane getih-
kita, pujine ” Layakrifu ilallaah “
2. Madi iku rupane kuning, kadadiyane
banyu-kita, pujine ” Lamakbuda ilallaah “
3. Mani iku rupane ijo, kadadiyane
penguwasa-kita, pujine ” Lamujuda ilallaah “
4. Manikem iku rupane putih, kadadiyane
cahya-kita, pujine ” Layatkuru ilallaah “
PUJINE ANASIRING MANUNSO
Pujine Anasiring Manungsa
Pujine Anasiring Manusa
1. Asal Bumi , rupane ireng, kadadiyane
wujud- kita hakikate Dzatira, iku dadining
kulit daging, pujine… ” Waashadu anna
Muhammadarasulullaah “
2. Asal Geni, rupane kuning, kadadiyane
nur-kitasifatira iku, dadine otot, balung,
pujine… ” Ashadualla ilaha illallaah “
3. Asal Angin , rupane ijo, kadadiyane ilmu-
kita af’al iku, dadining panguwasa, pujine… ”
Lasariikalaahu lailaha illallaah ”
4. Asal Banyu, rupane putih, kadadiyane
suhud-kita, hakekate asmanira,
iku dadining geting lan sumsum, pujine… ”
Sahitna ‘ala anfusina wa tsabit ‘indana
innahu lailahaillahuwa ”
@ di ambil dari berbagai sumber barangkali
bisa menambah khasanah pengetahuan kita
salam salim slamet
Minggu, 15 Maret 2015
Syair al ghazali
KEMATIAN – AL GHAZALI
Mengapa kamu masih riang bermain,
terlena dengan angan-angan.
Padahal ajal di depan matamu!
Bukankah kamu mengetahui
bahwa ambisi manusia adalah lautan luas
tak bertepi...
Bahteranya adalah dunia....
Maka berhati-hatilah jangan sampai karam!
Yakinlah! Bahwa kematian pasti
menjengukmu..
bersama segala kepahitannya....
Ingatlah detik-detik itu, ketika kamu
memberikan wasiat,,,
sedangkan anak-anak yang bakal menjadi
yatim....
Dan ibunya yang akan kehilangan suami
tercinta....
menangis pilu berlinang air mata....
Ia tenggelam dalam lautan kesedihan,,,,
seraya memukul-mukul wajahnya....
Disaksikan para lelaki, padahal sebelumnya...
ia adalah mutiara yang tersimpan rapi....
Kemudian setelah itu,....
dibawalah kain kafan kepadamu....
Akhirnya! Diiringi isak tangis dan derai air
mata,,,,,
Jasadmu dikebumikan !!!!!
Syair
Perjalananku jauh namun bekal tak
mencukupi
Kekuatan ku melemah namun kematian terus
mebuntuti
Ku bergelimang dosa namun ku tak
menyadarinya
Allah mengetahui apa yang tampak dan
dalam hati
Alangkah mulianya Allah karena telah
mengasihi
Ku bersimbah dosa namun Dia menutupi
Hari demi hari kulalui tanpa penyesalan
Tanpa tangis, takut, ataupun penyesalan
Aku sendiri yang menutup pintu
kesungguhan
Padahal Allah mengawasiku dalam
kemaksiatan
Alangkah nista karena ditulis dalam
kelalaian
Hatiku terbakar karena diliputi penyesalan
Izinkanlah aku dalam kesendirian
Memutus dunia dengan merenung dan
penyesalan
#syair kematian
Syair-Syair Kematian
1. Kita hanya sedang meluncur untuk terjun
kedalam jurang kematian #SyairKematian
2. Kematian selalu menjadi pelajaran,
pengingat atas sifat manusia yg pelupa,
bahwa engkau tak kekal di dunia
#SyairKematian
3. Kematian selalu menjadi kata2 bagi kita,
bahwa engkaulah yg akan kujemput kelak,
pasti, cepat atau lambat #SyairKematian
4. Kematian layaknya petir yg
membangunkan jiwa pelupa ini, untuk
kembali tunduk cemas menghamba padaNya
#SyairKematian
5. Kematian layaknya guru yg mengajari kita
untuk sadar menunggu, bahwa setelahnya
adalah giliran kita #SyairKematian
6. Kematian pula yg memaksa kita untuk
berserah, tunduk patuh pada kekalahan yg
pasti, kekalahan menghadapi takdir
#SyairKematian
7. Kita ini semua sedang menunggu,
penantian yg tak pernah kita mengerti
#SyairKematian
8. Akan ajal, semua telah tertulis, kitalah yg
terus berjalan
menghampirinya#SyairKematian
9. Kematian jangan menjadi benci, toh kelak
kitalah yg berjodoh dengannya
#SyairKematian
10. Kematian, ia bangkit menjadi duka, duka
bagi pundak yg berat akan dosa
#SyairKematian
11. Menjadi pilu bagi hati yg lupa pada
Tuhannya #SyairKematian
12. Maka tinggallah menunggu saatnya tiba,
dan sesal jiwa yg tak pernah habis
#SyairKematian
13. Kematian, ia adalah senyum bagi pundak
yg berat akan amal kebaikan
#SyairKematian
14. ia adalah salam bagi lidah yg selalu
basah, basah dengan lafadz dzikir padaNya
#SyairKematian
15. dan pelukan bagi setiap tetes yg jatuh
membasahi pipi yg memerah malu akan
dosa, dahi yg kerut takut akan siksa
#SyairKematian
16. Biarlah kematian menyampaikan pesan
Sang Pencipta, yg begitu kuasa
menghidupkan dan mengembalikan pada
kematian #SyairKematian
17. agar jiwa ini kembali tunduk cemas,
cemas akan nasib di hari abadi, bukan
cemas dengan kantong dan perut di alam
fana ini #SyairKematian
18. seperti itulah kematian, membuat kita
layaknya anak kecil yg menangis diambil
mainannya, bahwa tak selamanya kita kecil
dan terus bermain #SyairKematian
19. "kematian adalah nasehat & pengajaran
terbaik" seperti itulah baginda kita Rasul
SAW berbicara kematian #SyairKematian
20. Lalu kenapa jiwa ini enggan mengucap
taubat, padahal ajal sudah melambai
#SyairKematian
Rabu, 04 Maret 2015
Urip jo angger urip
aku punya cita-cita
besaaaaaarrrr
besar sekali..
namun hakikatnya
perjalanan sebuah kehidupan ini tak akan
mudah
dan tak mungkin akan mudah
kerna ini adalah sunnah perjuangan..
berlari
jangan berhenti
belajar
jangan merasa cukup
berharap
jangan berputus asa
tak mudah
tapi jangan mengalah!
Selasa, 03 Maret 2015
Syair dari persia
CINTA DALAM KETIADAAN
Betapa tak ’kan sedih aku, bagai malam,
tanpa hari-Nya serta keindahan wajah hari
terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku:
semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih
yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta demi
kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.
Titik air mata demi Dia adalah mutiara, meski
orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun
sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma
berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, dan
kutertawakan seluruh dalihnya.
Perlakukanlah aku dengan benar, O Yang
Maha Benar, O Engkaulah Mimbar Agung, dan
akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan
mimbar itu? Di manakah sang Kekasih, di
manakah “kita” dan “aku”?
O Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan
“aku”, O Engkaulah hakekat ruh lelaki dan
wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu,
Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-
bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya
memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat
menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam
sang Kekasih.
NYANYIAN SERULING BAMBU
Dengarkan nyanyi sangsai Seruling Bambu
Mendesah selalu, sejak direnggut
Dari rumpun rimbunnya dulu, alunan
Lagu pedih dan cinta membara.
“Rahasia nyanyianku, meski dekat,
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman tahu isyarat
Mendekap segenap jiwanya dengan jiwaku!
Ini nyala Cinta yang membakarku,
Ini anggur Cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pencinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!”
DUKACITA KEMATIAN
Pangeran umat manusia (Muhammad) sungguh
mengatakan bahwa tak seorang pun yang
meninggalkan dunia ini
Merasa sedih dan menyesal karena telah mati;
sebaliknya, dia bahkan sangat menyesal
karena telah kehilangan kesempatan,
Seraya berkata pada dirinya, ”Mengapa tak
kujadikan kematian sebagai tujuanku –
kematian sebagai gudang menyimpan segala
keberuntungan dan kekayaan,
Dan mengapa, karena tampak ganda, aku
tambatkan hidupku pada bayang-bayang yang
mudah lenyap dalam sekejap?”
Dukacita kematian tiada hubungannya dengan
ajal, karena mereka asyik dengan wujud
keberadaan yang menggejala
Dan tak pernah memandang seluruh buih ini
bergerak dan hidup karena Sang Lautan.
Bila Sang Lautan telah menepiskan buih ke
pantai, pergilah ke kuburan dan lihatlah
mereka!
Tanyakan kepada mereka, ”Di manakah arus
gelombangmu kini?” dan dengarlah jawaban
bisu mereka, ”Tanyakan kepada Sang Lautan,
bukan kepada kami”.
Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak?
Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa
angin?
Bila kaulihat debu, lihatlah pula Sang Angin;
bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra
Tenaga Penciptan.
Mari, perhatikanlah, karena pernglihatan
batinlah satu-satunya yang paling berguna
dalam dirimu: selebihnya adalah keping-
keping lemak dan daging, pakaian dan
pembungkus (tulang dan nadi).
Leburkanlah seluruh tubuhmu ke dalam
Penglihatan Batin: lihat, lihat, lihatlah!
Sekilas hanya sampai pada satu dua depa
jalan; pandangan cermat akan alam duniawi
dan spiritual menyampaikan kita pada Wajah
Sang Raja.
”PERKAWINAN”
Betapa bahagia saat kita duduk di istana, kau
dan aku,
Dua sosok dan dua tubuh namun hanya satu
jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan senandung burung ’kan
menebarkan pesona
Pada saat kita memasuki taman, kau dan
aku.
Bintang-bintang nan beredar sengaja
menatap kita lama-lama:
Bagi mereka kita ’kan jadi bulan, kau dan
aku.
Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, ’kan
menyatu dalam kenikmatan puncak,
Bercanda ria serta bebas dari percakapan
dungu, kau dan aku.
Burung-burung yang terbang di langit ’kan
menatap iri
Karena kita tertawa riang gembira, kau dan
aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku, duduk di sudut
yang sama di sini,
Pada saat yang sama berada di Irak da
khurasan, kau dan aku.
TETAP INGKAR
Apabila ada yang mengatakan kepada janin
di rahim, ”Di luar sana ada sebuah dunia yang
teratur,
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh
kesenagan dan makanan, luas dan lebar;
Gunung, lautan, dan daratan, kebun buah-
buahan mewangi, sawah dan ladang terbetang,
Langitanya sangat tinggi dan berbinar, sinar
mentari dan cahaya bulan serta tak terkira
banyaknya bintang;
Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau
tetap tinggal, mereguk darah, di dalam
penjara yang kotor lagi penuh penderitaan
ini?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentua akan
berpaling tak percaya sama sekali; karena
yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci
menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau
dan warna,
Tak seorang pun di antara orang-orang kasar
yang mau mendengarkannya: hawa nafsu
adalah sebuah rintangan yang kuat dan
perkasa
Begitupun dengan hasrat janin akan darah
yang memberinya makanan di tempat yang
hina
Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama
ia tak mengetahui makanan selain darah
semata.
KERANA CINTA
Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota
penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma
keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan
kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti
taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi
bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti
tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan
KEARIFAN CINTA
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih
sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
CINTA
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai
ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya,
Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan
muka ke jalannya.
Setiap orang mempunyai kekasih, dialah
kekasih saya,
Kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang
Saya cintai,
Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling
sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para
pecinta
yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia
dan
dia dan mereka adalah dia.Ini adalah sebuah
rahasia
Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan
memahaminya.
CINTA : LAUTAN TAK BERTEPI
Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang
Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta,
Bagaimana sesuatu yang organik berubah
menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri
demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan
diri demi nafas (Ruh) yang menghamili
Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai
salju
Tidak dapat terbang serta mencari padang
ilalang bagai belalang.
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha
Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas.
Cita-cita mereka yang tak terdengar,
sesungguhnya, adalah
lagu pujian Keagungan pada Tuhan.
PERIH CINTA
Perih Cinta inilah yang membuka tabir hasrat
pencinta:
Tiada penyakit yang dapat menyamai dukacita
hati ini.
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah,
isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.
Apakah dari jamur langit ataupun jamur
bumi,
Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada
akhirnya.
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk
menerangkan Cinta,
Bagai keledai dalam lumpur: Cinta adalah
sang penerang Cinta itu sendiri.
Bukankah matahari yang menyatakan dirinya
matahari?
Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari
ada di sana.
PERNYATAAN CINTA
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam
kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam
lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan
ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan
mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak
bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat
bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat
membelai kepala lagi.
TANPA CINTA, SEGALANYA TAK BERNILAI
Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak
akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti
Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang
memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari
langit
dan terikat pada bumi sepanjang dua atau
tiga hari
Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi
Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah
dan betapa menderitanya Keterpisahan
denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
dalam zikir hari yang kau gerakkan dari
Persatuan
Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan
Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau
larut dalam kepedihan ?
Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang
menguncup akan segera mekar. Sebab engkau
telah merasakan bagaimana Nikmatnya
Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian
Hati
adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA”
dalam pertanyaan :
“Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
PUASA MEMBAKAR HIJAB
Rasa manis yang tersembunyi,
Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi,
ia tidak dapat berdendang,
Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena
puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan
dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan
membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas
jalan serta dalam hasratmu.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung,
sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang
menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu
Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
DISEBABKAN RIDHO-NYA
Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,
Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang
seperti debu ini
dengan Cinta-Mu?
LETAK KEBENARAN
Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam
hakekat,
Tapi orang dungu mencarinya di dalam
kenampakan.
KAU DAN AKU
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung,
Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan
satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung
memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan,
Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita
–
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka,
Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan
Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri
pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa;
Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di
Khurasan –
Kau dan Aku.
RAHASIA YANG TAK TERUNGKAP
Apapun yang kau dengar dan katakan
(tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah
rahasia yang tak terungkapkan.
PERNYATAAN CINTA
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam
kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam
lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan
ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan
mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak
bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat
bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat
membelai kepala lagi.
HATI BERSIH MELIHAT TUHAN
Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat
dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada
seberapakah
ia menggosok hati tersebut.
Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat
semakin nyata baginya.
KEMBALI PADA TUHAN
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah
prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang
Tuhan.Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau
belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!Jika
engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh
sembilan saja.Begitulah caranya!Wahai
pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar
janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana
Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”
KESUCIAN HATI
Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian
hati
ialah melalui kerendahan hati.
Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya”
dalam pertanyaan
Bukankah Aku Tuhanmu?
MENYATU DALAM CINTA
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit.
Badan semakin lemah, sementara suhu badan
semakin tinggi.Para tabib menyarankan bedah,
“Sebagian darah dia harus dikeluarkan,
sehinggu suhu badan menurun.”Majnun
menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah
terhadap saya.”Para tabib pun bingung, “Kamu
takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar
hutan seorang diri. Tidak takut menjadi
mangsa macan, tuyul atau binatang buas
lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau
bedah?”“Tidak, bukan pisau bedah itu yang
kutakuti,” jawab Majnun.“Lalu, apa yang kau
takuti?”“Jangan-jangan pisau bedah itu
menyakiti Layla.”“Menyakiti Layla? Mana
bisa? Yang dibedah badanmu.”“Justru itu.
Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku.
Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat
perbedaan antara aku dan Layla.”
MEMAHAMI MAKNA
Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti
Wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan
sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.
Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah
aku.
Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-
mutiara
makna yang telah aku rentangkan di atas
kalung pembicaraan
berasal dari Lautan-Mu.
TUHAN HADIR DALAM TIAP GERAK
Tuhan berada dimana-mana.
Ia juga hadir dalam tiap gerak.
Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini
dan itu.
Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan
ruang.
Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi
ruang.
AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU
Apa yang dapat aku lakukan, wahai umat
Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
Bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi,
maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
LIHATLAH YANG TERDALAM
Jangan kau seperti iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika
memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!
KETERASINGAN DI DUNIA
Mengapa hati begitu terasing dalam dua
dunia?
Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,
Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang.
RUMAH
Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah
rumah,
dan hanya sembilan yang menemukan jalan
masuk,
yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan,
“Ini sudah takdir Tuhan.”
Ia seharusnya mencari tahu apa
kekurangannya.
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh
adalah debu di atasnya.
Kecantikan kita tidak terasa, karena kita
berada di bawah debu.
UPAYA
Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
BURUNG HANTU
Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu
dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
BURUNG HANTU dan ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding
reruntuhan yang dihuni burung hantu.
Burung-burung hantu menakutkannya, si
elang berkata, “Bagi kalian tempat ini
mungkin tampak makmur, tetapi tempatku
ada di pergelangan tangan raja.”
Beberapa burung hantu berteriak kepada
temannya, “Jangan percaya kepadanya!
Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri
rumah kita.”
By : Jalaluddin Rumi