Selasa, 28 April 2015

Isti 4

Istri 4
Di hari pertama puasa ini masi tertinggal
suatu beban yang cukup menggangguku,
dan... ngak tau karna apa hingga aku berani
memutuskan untuk membagi pada kalian
semua. Jika ini juga menggangu kalian,
lupakan saja ngak usah di tanggapin
anggep aja ngak pernah tau.
Sebenernya ini sangat pribadi banget sih,
tapi...ya biarlah kalian tau aku orangnya
seperti apa.
Gini...sebenernya.. akutuh punya istri 4
Kemarin... tiga di ataranya yaitu yg ke 4 ke
3
dan yg ke 2 telah telah menolak untuk
berjanji sehidup semati.
Padahal...istri Termudaku atau yg ke 4
sangat kumanja,
aku selalu berusaha memenuhi semua
kebutuhan dan permintaannya.
tapi apa jawapannya? "ahh... ngak la yau...."
sambil ngloyor pergi
tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kalo istri yg KETIGA ini aku sangat
mencintainya.
jawabnya malah lebih sadis lagi "setelah
kematianmu,
aku akan segera pergi dan menikah dengan
laki-laki lain"
dan istri yg ke DUA.. adalah tempat aku
selalu mengadu dan
mengeluh kepadanya dalam setiap kesulitan
yang aku hadapi.
Kalo yg ke 2 ini berucap dengan lemah
lembut "Maafkan aku.
Aku tidak mungkin memenuhi permintaanmu.
Aku hanya bisa
mengantarmu nanti sampai ke kuburmu.
sedangkan istri pertamaku sangat kurus
kering dan
sakit-sakitan karena tidak pernah
kuperhatikan selama ini.
Tapi apa jawab istri pertama yg telah aku
sia-siakan ini
"Aku akan selalu bersamamu kemana pun
kamu pergi,
bahkan Aku siap menemanimu di alam
kuburmu nanti"
Sekarang.... Kalian tau seperti apa
sebenernya aku ini,
aku ngak tau kalian semua simpati atau
malah marah padaku
Tapi sebelum kalian menghakimiku,
sebaiknya... ku perkenalkan
dulu siapa nama istri-istriku ini.
yang ke 4 bernama: JASAT KITA
Bagaimanapun perhatian yang kita berikan
terhadapnya,
kita penuhi segala nafsu dan syahwatnya,
jasad akan
hancur begitu kita meninggal dunia.
yang ke 3: KEKAYAAN HARTA BENDA
Ketika kita meninggal, kekayaan dan harta
benda kita akan
meninggalkan kita dan segera menjadi milik
orang lain.
Sedang yang ke 2 adalah KELUARGA &
TEMAN
Hanya bisa sebatas mengantarkan kita
sampai ke kubur.
Untuk istri pertama adalah: JIWA & AMAL
IBADAH
Padahal jiwa serta amal ibadah kita saja
yang akan
tetap menyertai kita nanti di alam yg kekal.
selamat menjalankan Ibadah PUASA
Semoga kita semua bisa memperlakukan
dengan adil ke 4 istri maaupun suami kita
semua

Senin, 27 April 2015

Mati iku pasti

Kematian  juga  dikemukakan  oleh  Al-Quran  dalam   konteks
menguraikan  nikmat-nikmat-Nya  kepada  manusia. Dalam surat
Al-Baqarah (2): 28 Allah mempertanyakan  kepada  orang-orang
kafir.
     "Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu
     tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya),
     kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya
     kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya."
Nikmat yang diakibatkan  oleh  kematian,  bukan  saja  dalam
kehidupan   ukhrawi   nanti,  tetapi  juga  dalam  kehidupan
duniawi, karena tidak dapat  dibayangkan  bagaimana  keadaan
dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua
manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian.
Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil  sama  sekali  bagi
makhluk  manusia  yang  mengalami perkembangan jutaan tahun,
untuk  dilemparkan  begitu  saja  bagai  barang  yang  tidak
berharga.  Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu
menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa  itu
dengan  jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan
jalan amal saleh. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
     "Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman
     kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa
     atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan
     hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu
     yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia
     Mahamulia lagi Maha Pengampun" (QS Al-Mulk [67]:
     1-2).1
Demikian  terlihat  bahwa  kematian  dalam  pandangan  Islam
bukanlah  sesuatu  yang  buruk,  karena di samping mendorong
manusia untuk  meningkatkan  pengabdiannya  dalam  kehidupan
dunia  ini,  ia  juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki
kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
KEMATIAN HANYA KETIADAAN HIDUP DI DUNIA
Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian
bukanlah  ketiadaan  hidup  secara  mutlak, tetapi ia adalah
ketiadaan hidup di dunia,  dalam  arti  bahwa  manusia  yang
meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan
dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.
     "Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang
     gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu
     hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS
     Ali-'Imran [3]: 169).
     "Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang
     yang meninggal di jalan Allah bahwa 'mereka itu
     telah mati,' sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu
     tidak menyadarinya" (QS Al-Baqarah [2]: 154).
Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara'  bin
Azib,  bahwa  Rasulullah Saw., bersabda ketika putra beliau,
Ibrahim, meninggal dunia, "Sesungguhnya untuk dia  (Ibrahim)
ada seseorang yang menyusukannya di surga."
Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika
orang-orang  musyrik  yang  tewas  dalam  peperangan   Badar
dikuburkan    dalam    satu    perigi    oleh    Nabi    dan
sahabat-sahabatnya, beliau  "bertanya"  kepada  mereka  yang
telah  tewas  itu,  "Wahai  penghuni perigi, wahai Utbah bin
Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai  Abu
Jahl   bin   Hisyam,  (seterusnya  beliau  menyebutkan  nama
orang-orang yang di dalam perigi itu satu per  satu).  Wahai
penghuni  perigi!  Adakah  kamu  telah  menemukan  apa  yang
dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? Aku  telah  mendapati
apa yang telah dijanjikan Tuhanku."
"Rasul. Mengapa  Anda  berbicara  dengan  orang  yang  sudah
tewas?"  Tanya  para  sahabat.  Rasul menjawab: "Ma antum hi
asma' mimma aqul minhum,  walakinnahum  la  yastathi'una  an
yujibuni  (Kamu  sekalian tidak lebih mendengar dari mereka,
tetapi mereka tidak dapat menjawabku)."2
Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk
membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran
dan kehidupan baru.
MENGAPA TAKUT MATI?
Di atas telah dikemukakan beberapa faktor  yang  menyebabkan
seseorang merasa cemas dan takut terhadap kematian.
Di sini akan dicoba untuk melihat lebih jauh betapa sebagian
dari  faktor-faktor  tersebut  pada  hakikatnya  bukan  pada
tempatnya.
Al-Quran  seperti  dikemukakan  berusaha menggambarkan bahwa
hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia.
     "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu
     daripada dunia" (QS Al-Dhuha [93]: 4).
Musthafa  Al-Kik  menulis  dalam   bukunya   Baina   Alamain
bahwasanya  kematian  yang dialami oleh manusia dapat berupa
kematian mendadak seperti serangan  jantung,  tabrakan,  dan
sebagainya,  dan  dapat  juga merupakan kematian normal yang
terjadi melalui proses  menua  secara  perlahan.  Yang  mati
mendadak  maupun  yang normal, kesemuanya mengalami apa yang
dinamai sakarat al-maut (sekarat)  yakni  semacam  hilangnya
kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad.
Dalam  keadaan  mati  mendadak,  sakarat  al-maut  itu hanya
terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa
sangat  sakit  karena  kematian  yang dihadapinya ketika itu
diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti "duri yang berada  dalam
kapas,  dan  yang dicabut dengan keras." Banyak ulama tafsir
menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang
mencabut  nyawa  dengan  keras)  (QS  An-Nazi'at  [79]:  1),
sebagai isyarat  kematian  mendadak.  Sedang  lanjutan  ayat
surat     tersebut     yaitu    Wan    nasyithati    nasytha
(malaikat-malaikat yang mencabut ruh  dengan  lemah  lembut)
sebagai   isyarat   kepada   kematian  yang  dialami  secara
perlahan-lahan.3
Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang  dinyatakan
oleh  ayat  di  atas  sebagai "dicabut dengan lemah lembut,"
sama keadaannya dengan proses yang  dialami  seseorang  pada
saat  kantuk  sampai  dengan  tidur. Surat Al-Zumar (39): 42
yang  dikutip   sebelum   ini   mendukung   pandangan   yang
mempersamakan  mati  dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan
bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa  yang
diajarkan  Rasulullah  Saw.  untuk  dibaca  pada saat bangun
tidur adalah:
     "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami
     (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami
     (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan
     (kelak)."
Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar
(39): 42 sebagai berikut:
     "Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua
     hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian
     adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang
     tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna
     dilihat dari beberapa segi."
Kalau  demikian.  mati  itu  sendiri  "lezat  dan   nikmat,"
bukankah   tidur   itu   demikian?  Tetapi  tentu  saja  ada
faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan  kematian  lebih
lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi
ngerinya   mimpi-mimpi   buruk   yang    dialami    manusia.
Faktor-faktor  ekstern  tersebut muncul dan diakibatkan oleh
amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini
Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh
Imam   Ahmad   menjelaskan   bahwa,  "Seorang  mukmin,  saat
menjelang kematiannya, akan didatangi oleh  malaikat  sambil
menyampaikan  dan  memperlihatkan  kepadanya  apa yang bakal
dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih
disenanginya  kecuali  bertemu  dengan Tuhan (mati). Berbeda
halnya  dengan  orang  kafir  yang   juga   diperlihatkannya
kepadanya  apa  yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak
ada sesuatu yang lebih dibencinya  daripada  bertemu  dengan
Tuhan."
Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman,
     "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa
     Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan
     pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
     mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa
     takut dan jangan pula bersedih, serta
     bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah
     kepada kamu.'"
Turunnya  malaikat  tersebut  menurut  banyak  pakar  tafsir
adalah  ketika  seseorang  yang sikapnya seperti digambarkan
ayat di atas sedang menghadapi  kematian.  Ucapan  malaikat,
"Janganlah  kamu  merasa  takut"  adalah  untuk  menenangkan
mereka menghadapi maut  dan  sesudah  maut,  sedang  "jangan
bersedih"   adalah   untuk  menghilangkan  kesedihan  mereka
menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan  seperti  anak,
istri, harta, atau hutang.
Sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang
kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan:
     "Kalau sekuanya kamu dapat melihat
     malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang
     kafir seraya memukul muka dan belakang mereka
     serta berkata, 'Rasakanlah olehmu siksa neraka
     yang membakar' (niscaya kamu akan merasa sangat
     ngeri)" (QS Al-Anfal [8]: 50)
     "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di
     waktu orang-orang yang zalim berada dalam
     tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para
     malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata,
     'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas
     dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu
     selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang
     tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan
     diri terhadap ayat-ayat-Nya" (QS Al-An'am [6]:
     93).
Di  sisi  lain,  manusia  dapat  "menghibur"  dirinya  dalam
menghadapi   kematian  dengan  jalan  selalu  mengingat  dan
meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak  seorang
pun  akan  luput  darinya,  karena  "kematian  adalah risiko
hidup." Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa,
     "Setiap jiwa akan merasakan kematian?" (QS Ali
     'Imran [3]: 183)
     "Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk
     seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu
     meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS
     Al-Anbiya' [21]: 34)
Keyakinan  akan  kehadiran  maut  bagi  setiap  jiwa   dapat
membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti
diketahui, "semakin banyak yang terlibat dalam  kegembiraan,
semakin   besar   pengaruh   kegembiraan   itu   pada  jiwa;
sebaliknya,  semakin  banyak  yang  tertimpa  atau  terlibat
musibah, semakin ringan musibah itu dipikul."
Demikian  Al-Quran  menggambarkan kematian yang akan dialami
oleh manusia taat dan durhaka, dan demikian kitab suci  irõi
menginformasikan   tentang  kematian  yang  dapat  mengantar
seorang mukmin agar  tidak  merasa  khawatir  menghadapinya.
Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk
bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan.
Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.
[]
Catatan kaki:
1 Tajdid Al-Fikr Al-lslami, 134.
2 Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad: 259.
3 Musthafa Al-Kik, hlm. 67
Tazkiyatun Nafs
MARILAH KITA MENGINGAT KEMATIAN
Sesungguhnya kematian merupakan hakekat
yang menakutkan, akan mendatangi seluruh
orang yang hidup. Semuanya tidak kuasa
menolaknya, tidak ada seorangpun di
sekitarnya yang mampu menahannya. Maut
merupakan ketetapan Alloh, seandainya ada
seseorang selamat dari maut, niscaya
manusia yang paling mulia yang akan
selamat. Namun maut merupakan SunnahNya
pada seluruh makhlukNya. Alloh Ta’ala
berfirman:
ﺇِﻧَّﻚَ ﻣَﻴِّﺖٌ ﻭَﺇِﻧَّﻬُﻢ ﻣَّﻴِّﺘُﻮﻥَ
Sesungguhnya engkau (Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam ) akan mati dan
sesungguhnya mereka akan mati
(pula). (QS. 39:30)
Tiada manusia kekal di dunia ini.
ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﺒَﺸَﺮٍ ﻣِّﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ ﺍﻟْﺨُﻠْﺪَ ﺃَﻓَﺈِﻥْ ﻣِّﺖَّ ﻓَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ
. ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
Kami tidak menjadikan hidup abadi
bagi seorang manusiapun sebelum
kamu (Muhammad), maka jikalau kamu
mati, apakah mereka akan kekal?
(QS. 21:34) Tiap-tiap yang berjiwa
akan merasakan mati. (QS. 21:35)
LARI DARI KEMATIAN?
Kekuasaan Alloh meliputi segala sesuatu. Dia
telah menetapkan adanya kematian pada
manusia, maka bagaimanapun manusia
menghindar dari kematian, kematian itu
tetap akan menyusulnya. Alloh Ta’ala
berfirman:
ﺃَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻳُﺪْﺭِﻛﻜُّﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺑُﺮُﻭﺝٍ ﻣُﺸَﻴَّﺪَﺓٍ
Di mana saja kamu berada, kematian
akan mendapatkan kamu, kendatipun
kamu di dalam benteng yang tinggi
lagi kokoh. (QS. 4:78).
Dan Alloh menantang kepada orang-orang
yang menyangka bahwa mereka tidak
dikuasai oleh Alloh, dengan mengembalikan
nyawa orang yang sekarat, jika memang
mereka benar!
ﻓَﻠَﻮْ ﻵ ﺇِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐَﺖِ ﺍﻟْﺤُﻠْﻘُﻮﻡَ . ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﺗَﻨﻈُﺮُﻭﻥَ . ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻗْﺮَﺏُ
ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜِﻦ ﻻَّ ﺗُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ . ﻓَﻠَﻮْ ﻵ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﻏَﻴْﺮَ ﻣَﺪِﻳﻨِﻴﻦَ .
ﺗَﺮْﺟِﻌُﻮﻧَﻬَﺎ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ
Maka mengapa ketika nyawa sampai
di kerongkongan, padahal kamu
ketika itu melihat, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada kamu.
Tapi kamu tidak melihat, maka
mengapa jika kamu tidak dikuasai
(oleh Allah), kamu tidak
mengembalikan nyawa itu (kepada
tempatnya) jika kamu adalah orang-
orang yang benar. (QS. 56:83-87)
AWAS KEMATIAN MENDADAK!
Kita berada di akhir zaman, banyak terjadi
kematian mendadak, memang itu merupakan
salah satu tanda-tanda hari kiamat. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺃَﻣَﺎﺭَﺍﺕِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ … ﺃَﻥْ ﻳَﻈْﻬَﺮَ ﻣَﻮْﺕُ ﺍﻟْﻔَﺠْﺄَﺓِ
Sesungguhnya di antara tanda-tanda
hari kiamat adalah…munculnya
kematian mendadak. (HR. Thobaroni;
Dhiya’ Al-Maqdisi; dihasankan oleh
Syeikh Al-Albani di dalam Shohih Al-
Jami, no: 5775)
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
tersebut di zaman ini benar-benar sudah
nyata. Kita lihat seseorang yang sehat,
kemudian mati tiba-tiba, orang-orang
sekarang menyebutnya dengan “serangan
jantung”! Maka orang yang berakal
hendaklah memperhatikan dirinya, segera
kembali dan bertaubat kepada
Penguasanya, sebelum kedatangan kematian
mendadak yang tidak dia sangka!.
ANJURAN MENGINGAT MAUT
Banyak hadits-hadits yang mengingatkan
tentang maut, agar manusia selalu ingat
bahwa hidup di dunia ini tidaklah selamanya.
Dan agar dia bersiap-siap dengan
perbekalan yang dia butuhkan untuk
perjalanannya yang panjang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ : ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ , ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﺬْﻛُﺮْﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﻓِﻲْ
ﺿِﻴْﻖٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﻴْﺶِ ﺇِﻻَّ ﻭَﺳَّﻌَﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ , ﻭَﻻَ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﻓِﻲْ ﺳَﻌَﺔٍ ﺇِﻻَّ
ﺿَﻴَّﻘَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
Perbanyaklah mengingat pemutus
kenikmatan: yaitu kematian. Karena
sesungguhnya tidaklah seseorang
mengingatnya di waktu sempit
kehidupannya, kecuali (mengingat
kematian) itu melonggarkan
kesempitan hidup atas orang itu. Dan
tidaklah seseorang mengingatnya di
waktu luas (kehidupannya), kecuali
(mengingat kematian) itu
menyempitkan keluasan hidup atas
orang itu . (HR. Ath-Thobaroni dan Al-
Hakim Shahih Al-Jami’ush Shaghir: no.
1222; Shohih At-Targhib, no: 3333)
Syumaith bin ‘Ajlan berkata:
ﻣَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻧُﺼْﺐَ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ , ﻟَﻢْ ﻳُﺒَﺎﻝِ ﺑِﻀَﻴْﻖِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻻَ
ﺑِﺴَﻌَﺘِﻬَﺎ
“Barangsiapa menjadikan maut di
hadapan kedua matanya, dia tidak
peduli dengan kesempitan dunia atau
keluasannya”. (Mukhtashor Minhajul
Qoshidin, hal: 483, tahqiq: Syeikh Ali
bin Hasan Al-Halabi)
Quss bin Sa’idah Al-Ibaadi, salah seorang
hunafaa’, melantunkan sya’ir:
Pada orang-orang dahulu yang telah
pergi (mati),
dari umat-umat (yang telah tiada)
terdapat bukti-bukti yang nyata
Ketika aku melihat tempat-tempat
yang dituju,
bagi kematian yang tidak ada
sumber-sumbernya,
Aku melihat kaumku pergi menuju
kematian,
orang-orang besar dan anak-anak
kecil,
Akupun yakin, bahwa aku pasti akan
pergi juga, ke mana kaumku telah
pergi.
(Dinukil dari Majalah Al-Asholah, hlm: 74, 15-
Robi’uts Tsani-1413 H)
Orang yang banyak mengingat kematian
dan mempersiapkannya dengan iman yang
shohih (benar), tauhid yang kholish (murni),
amal yang sholih (sesuai dengan tuntunan),
dengan landasan niat yang ikhlas, itulah
orang-orang yang paling berakal!
ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨْﺖُ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺠَﺎﺀَﻩُ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻓَﺴَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻱُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻗَﺎﻝَ
ﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﺧُﻠُﻘًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺄَﻱُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻛْﻴَﺲُ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ
ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺍﺳْﺘِﻌْﺪَﺍﺩًﺍ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟْﺄَﻛْﻴَﺎﺱُ
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Aku
bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi
wasallam , lalu seorang laki-laki
Anshor datang kepada beliau,
kemudian mengucapkan salam kepada
belaiu, lalu dia berkata: “Wahai
Rosululloh, manakah di antara kaum
mukminin yang paling utama?”. Beliau
menjawab: “Yang paling baik
akhlaknya di antara mereka”. Dia
berkata lagi: “Manakah di antara
kaum mukminin yang paling cerdik?”.
Beliau menjawab: “Yang paling banyak
mengingat kematian di antara
mereka, dan yang paling baik
persiapannya setelah kematian.
Mereka itu orang-orang yang cerdik”.
(HR. Ibnu Majah, no: 4259. Hadits
Hasan; Lihat Ash-Shohihah, no: 1384)
Marilah kita renungkan sabda Nabi yang
mulia shallallahu ‘alaihi wasallam:
ﻳَﺘْﺒَﻊُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺍﺛْﻨَﺎﻥِ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻳَﺘْﺒَﻌُﻪُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ
ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻋَﻤَﻠُﻪُ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻋَﻤَﻠُﻪُ
Mayit akan diikuti oleh tiga perkara
(menuju kuburnya), dua akan kembali,
satu akan tetap. Mayit akan diikuti
oleh keluarganya, hartanya, dan
amalnya. Keluarganya dan hartanya
akan kembali, sedangkan amalnya
akan tetap. (HR. Bukhori; Muslim;
Tirmidzi; Nasai)
PENYESALAN ORANG KAFIR DI SAAT KEMATIAN
` Janganlah seseorang menolak
keimanan dan menyepelekan amal sholih,
karena suatu saat pasti dia akan menyesal.
Alloh Ta’ala berfirman:
ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺂﺀَ ﺃَﺣَﺪَﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺍﺭْﺟِﻌُﻮﻥِ {99} ﻟَﻌَﻠِّﻲ
ﺃَﻋْﻤَﻞُ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺖُ ﻛَﻶ ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻛَﻠِﻤَﺔٌ ﻫُﻮَ ﻗَﺂﺋِﻠُﻬَﺎ ﻭَﻣِﻦ
ﻭَﺭَﺁﺋِﻬِﻢ ﺑَﺮْﺯَﺥٌ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﻳُﺒْﻌَﺜُﻮﻥَ
(Demikianlah keadaan orang-orang
kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seorang dari
mereka, dia berkata:”Ya Rabbku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar
aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan.
Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkan
saja. Dan di hadapan mereka ada
dinding sampai hari mereka
dibangkitan. (QS. 23: 99-100)
SEGERA BERAMAL SEBELUM DATANG
KEMATIAN
Janganlah seseorang selalu mengundurkan
amal sholih karena kesibukan duniawi,
karena selama masih hidup, manusia tidak
akan lepas dari kesibukan! Orang yang
berakal akan mengutamakanlah urusan
akhirot yang pasti datang, dan
mengalahkan urusan dunia yang pasti
ditinggalkan.
Allah Ta’ala berfirman:
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻵ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦ ﺫِﻛْﺮِ
ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ {9} ﻭَﺃَﻧﻔِﻘُﻮﺍ
ﻣِﻦ ﻣَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻛُﻢ ﻣِّﻦ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝَ ﺭَﺏِّ
ﻟَﻮْ ﻵ ﺃَﺧَّﺮْﺗَﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟَﻞٍ ﻗَﺮِﻳﺐٍ ﻓَﺄَﺻَّﺪَّﻕَ ﻭَﺃَﻛُﻦ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ
{10} ﻭَﻟَﻦ ﻳُﺆَﺧِّﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺂﺀَ ﺃَﺟَﻠُﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ
ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
Hai orang-orang yang beriman,
janganlah harta-hartamu dan anak-
anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa
melakukan demikian maka mereka
itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-
Munafiqun: 9) Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami
berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada salah seorang di
antara kamu; lalu ia berkata:”Ya
Rabbku, mengapa Engkau tidak
menangguhkan (kematian)ku sampai
waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah
dan aku termasuk orang-orang yang
saleh” (QS. Al-Munafiqun: 10) Dan
Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang
apabila datang waktu kematiannya.
Dan Allah Maha Mengenal apa yang
kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 11)